Feeds:
Tulisan
Komentar

Aku yang kecil, teramat kecil buat mengerti tentang semua yang telah aku alami. Kesedihan, tawa, kejenuhan dan semangat pernah membaur bersama hidupku. Aku cukup pintar untuk mengerti berbagai persoalan matematik. Integral, deferensial, matrik , rumusan kimia dan fisika dengan mudahnya dapat aku kuasai. Namun, kenapa untuk mencari siapa sejatinya diriku saja, aku harus berpeluh keringat dan darah. Kalau boleh aku runut ke belakang kita dikondisikan untuk tidak mengerti apa-apa saat kita terlahir ke dunia. Kemudian semakin bertambah usia kita dijejali dengan permasalahan-permasalahan dunia yang membuat kita semakin mengerti tentang hakekat kehidupan. Perjumpaan dengan kasih sayang, persahabatan, ilmu, materi, cinta dan semuanya akan diakhiri dengan perpisahan. Cukupkah itu? Tentu tidak, ada sesuatu yang tertinggal dan rasanya akan sangat sayang bila kita tidak menemukan itu dalam kedipan kehidupan kita. Apa yang kita alami tentu ingin kita rasakan hakekatnya. Sungguh, hidup ini begitu indah, terlalu indah, bukan karena aku menjadi orang kaya yang dengan kekayaan yang aku miliki aku dapat membeli keinginanku sendiri. Bukan pula karena aku orang yang paling rupawan sehingga semua gadis yang melihatku dapat pingsan seketika. Namun karena aku tahu tujuan kenapa aku diciptakan di dunia ini. Dan dengan tujuan itu, aku tahu apa yang harus aku cari. Sehingga tidak ada yang perlu aku pertanyakan lagi.

 

Kenapa kita harus bertikai karena keegoisan kita. Kenapa alam yang dulu indah kini menjadi rusak. Kenapa harus ada perang. Kenapa kita harus bersusah payah dengan segala cara untuk mengumandangkan ke pelosok negeri kalau kita adalah orang yang pantas memimpin bangsa ini, padahal kenyataanya untuk memimpin diri sendiri saja kita belum mampu. Kebanyakan hati kini telah mati digantikan oleh pikiran-pikiran kotor yang egoistis. Buat apa semua itu, itulah yang aku pikirkan kini, seorang pemuda yang sedang mencari jati dirinya. Goresan kecil sudah sering tergambar di sekujur tubuhku, di sekujur tubuhku yang lemah ini. Hanya karena semua pertanyaan itu. Kurasa itu bukan pertanyaan yang ku buat-buat. Tapi itu pertanyaan yang tidak pernah terjawab bagi orang-orang yang harus menjawab pertanyaan itu. Bukankah kita sama-sama manusia, makhluk yang diciptakan dengan keadaan yang  paling sempurna.

 

Hah…. sepertinya hari ini aku sudah letih menceramahi kucing kesayanganku yang sedang santai mendengkur di sofa mewahku. Sofa kayu yang ayahku ambil karena telah dibuang oleh pemiliknya. Tempat dimana aku berguru pada pahitnya alam. Pagi buta yang indah mungkin enak untuk santai membaca koran dan minum minuman yang hangat. Namun sayangnya ada pekerjaan yang lebih menarik bagiku. Kenapa menarik, karena dengan pekerjaan inilah aku dapat merasakan makanan yang akan tersaji untuk siang hari nanti atau kalau beruntung malam pun aku dapat tidur tanpa harus merasakan kelaparan. Hari ini dan seperti hari-hari sebelumnya aku bekerja sebagai staf pemilihan sampah  entah kapan aku dapat menjadi direkturnya. Mungkin ini bukanlah bahasa personifikasi yang diajarkan semasa SMA namun kenyataannya aku harus bangga dengan semua ini. Ya aku bekerja sebagai pemulung di lahan yang membuat aku harus terpaksa menjadi pemulung untuk 10 tahun ke depan setara dengan kemampuan tampung lahan tersebut. Sebuah lahan TPA (Tempat Pengolahan Akhir) yang pada dasarnya hanya sebagai tempat pembuangan tak berakhir. Bau busuk, lalat, berbagai macam makhluk lucu lainnya bukanlah hal yang tabu bagiku dan bagi teman-teman seperjuanganku. Kurap, kudis dan penyakit kulit sejenis adalah “perhiasan” yang ada pada tubuh kami. Mungkin ini adalah hal yang mengerikan bagi orang-orang yang pernah merasakan tinggal di perumahan elit. Jangankan untuk merasakannya bahkan hanya mendengarnya pun aku rasa dapat menyebabkan mereka alergi tujuh hari delapan malam.  Ini realita, orang yang telah berada di atas akan merasa tenang untuk selalu berada di atas bahkan dia tak akan membiarkan orang dibawahnya untuk bersamanya atau melewatinya.

      

Kegelisahan Hati

 Selasa, 19 April 2005

 

Hari ini entah sudah berapa lama kujalani hidupku, yang kutahu kini aku telah tampak dewasa. Beberapa helai rambut putih telah tumbuh subur di kepalaku. Entah apa yang kurasakan saat ini, sepertinya ada yang salah pada diriku. Tidak seperti hari-hari lain, hari ini perasaanku mudah mengalir terbawa oleh suasana yang misterius. Pikiranku kini melunak terhadap teror hatiku. Seakan-akan aku sedang berada dalam kabut kehampaan. Bingung ingin pergi kemana. Tak ada tujuan yang ingin kutuju.

Pikiran yang selama ini aku sanjung dan ku agung-agungkan hanya meninggalkan jejak kepedihan. Aku muak dengan doktrin pikiranku. Aku bosan dengan semua yang telah aku rencanakan. Aku ingin bebas, lepas dari semua keterikatan yang membelenggu. Lari meninggalkan kejenuhan aktifitas. Ya..aku bosan dengan ritme hidupku. Apa yang telah aku dapatkan tak lebih hanya sebagai fatamorgana. Sekedar pemuas lahir yang melintas seketika. Aku ingin yang lebih. Aku ingin merasakan sesuatu yang dapat menjawab segala gundah gulana ku. Tapi seperti apa..? dan bagaimana aku menemukannya.. Sial..sial apa yang harus kulakukan…….?

 

Kamis, 21 April 2005

 

Kalut yang kurasakan beberapa hari yang lalu, membuatku tak sabar mencari celah yang membuat semua ini. Kondisi ini terlalu menyiksaku, hingga rasa keju yang kumakan pun ikut terkontaminasi. Hari ini selera makan ku hilang. Hilang bersama kehampaan hatiku.

Waktu yang dulu menjadi maskot hidupku kini tersia, detik demi detik berlalu, menit, jam hingga separuh hari aku habiskan dengan merenung pada kursi kerja ini. Mata ku terhunus pada belantara langit biru yang menggelegarkan kesejukan. Burung-burung gereja bebas berterbangan membawa keceriaan. Hari yang indah namun tak selaras dengan kondisi hatiku. Hatiku gelap menunggu jawaban yang ingin kutemui.

Entah telah berapa kali dering telepon ku berbunyi. Hingga aku menyadari bahwa hari ini ada janji yang telah aku buat dengan seorang klien. Anggota badanku serentak bergerak mengharuskan diriku bangun dari kursi yang telah lama menjadi saksi bisu   

Bersambung…………………………….

Pengertian Cinta

 

 

      8 Pengertian Tentang Cinta dalam Al-Qur’an

  1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
  2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
  3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
  4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
  5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
  6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
  7. Cinta syauq (rindu), Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
  8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

disadur dari www.whandi.net

 

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta.

 

Cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada). Ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai menaruh belas kasihan.

 

       Menurut Dr. Sarlito.W.Sarwono 

 

             Dikatakan bahwa cinta memiliki 3 unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan.. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan  dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang. Kemesraan yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang.

            Didalam kitab suci Al Quran ditemui adanya fenomena cinta yang bersembunyi dalam jiwa manusia. Cinta memiliki 3 tingkatan yaitu tinggi, menengah dan rendah. Cinta tingkat tinggi adalah cinta kepada Allah, rasulallah dan berjihad dijalan Allah. Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta tingkat rendah adanya cinta yang lebih mengutamakan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal.

 diambil dari staffsite.gunadarma.ac.id

Forum diskusi

Apakah pengertian cinta menurut Anda ? 

                 Mengapa kita harus mencintai ?

      Dari manakah asalnya cinta ?

Bagimanakah kita harus menempatkan cinta ?

Adakah cinta yang tulus ?

 

 

 

Opiniku

Entah apa yang akan kutulis hari ini, hari ini adalah kali pertama aku membuat tulisan untuk wordpressku. Mungkin aku bukanlah orang pintar yang mengerti tentang banyak hal. Dan Aku juga bukan orang yang cerdas yang dapat mengomentari setiap permasalahan. Tetapi yang pasti aku ingin mencoba belajar mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku. Apa yang ada dalam angan-angan ku dan apa yang ada dalam hatiku. Dunia semakin lama akan semakin penuh dengan pikiran-pikiran dan angan-angan. Namun di sisi lain hati sangat jarang digunakan dan kian lama kian tersingkir. Otoritas hati kini telah dipenggal oleh keegoisan pikiran . Seakan-akan pikiran adalah segalanya sehingga dibiarkan terlalu bebas dan melepaskan sisi kemanusian yang ada. Lebih parah lagi, kebanggaan manusia pada pemikiran telah menjadikan manusia sebagai budak yang tunduk dan patuh terhadap pemikiran yang tercipta tanpa argumen yang lengkap dan bisa dipertanggung jawabkan. Kenyataan yang harus disadari bahwa kita memiliki keterbatasan dalam menggunakan otak dan indera sebagai base camp terciptanya berbagai bentuk pemikiran. Output yang tercipta hanya dapat dilihat dari satu aspek pembenaran, jelas dalam masalah ini semua output pemikiran yang tercipta hanya dapat dijadikan sebagai pembenaran yang bersifat sementara. Nah, hati atau perasaan seharusnya dijadikan pendamping yang dapat memperkuat atau memperlemah pembenaran yang dilakukan oleh otak dan indera begitu juga sebaliknya, sehingga ada kontrol balik dari tiap elemen. Sekali lagi harus diingat bahwa kita memliki keterbatasan. Namun dengan kenyataan tersebut tidak berarti membuat kita pesimistis. Kita diberi kewenangan untuk terus mengembangkan pikiran. Kita diberi kebebasan untuk menembus cakrawala, membelah lautan, menggeledah isi bumi dengan pikiran kita. Kita juga diberi kesempatan untuk menilai,  mencermati, membantah, menyimpulkan sesuatu. Output dari kesemuanya itu seharusnya telah didasarkan atas arah dan tanggung jawab yang jelas sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial. Pertama, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, jangan sampai membuat diri kita merasa congkak dengan hasil pemikiran tersebut dan mengklaim sebagai makhluk otonom yang dengan pemikirannya mampu mengurus dan  membuat dunia lebih baik dengan sistem yang dia miliki. Kedua sebagai makhluk sosial, harus kita sadari bahwa kita hidup di dalam suatu komunitas yang disebut masyarakat dimana di dalam komunitas tersebut terjadi interaksi antar satu dengan yang lain. Setiap aksi yang kita lakukan pasti berdampak terhadap orang lain,  begitu juga dengan pemikiran kita. Ketika pemikiran tersebut sudah dirilis menjadi suatu aksi yang nyata setidaknya harus kita pikirkan dampak apa  yang akan ditimbulkan bagi orang lain. Jangan sampai berdampak negatif yang dapat meresahkan masyarakat. Karena setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan dipertanggungjawabkan. Yakinlah